• Call us: 085-100-313999
  • [email protected]

Cara Mudah Memahami Business Model Canvas

cara mudah memahami business model canvas

Oleh: Jaya Setiabudi (Founder YEA, Ecamp, Yukbisnis)

Apakah kamu sering dengar istilah business model canvas atau business model generation..?

Business model generation, suatu buku karangan Alexander Osterwalder dan kawan-kawannya yang sebagian besarnya adalah doctor dan professor di bidang manajemen. Menurut saya buku ini adalah buku yang terbaik dalam 10 tahun terakhir ini. Hanya saja, bagi orang awam memang tidak mudah untuk memahaminya dalam waktu singkat.

Oleh karena itu saya akan berusaha untuk menjelaskan dengan waktu yang sangat singkat agar kita semua terutama yang awam untuk bisa memahami Business Model Canvas (BMC).

Saya akan menggunakan pendekatan yang disebut dengan input output analysis. Bagi saya input ouput analysis adalah induknya framework, karena bisa digunakan tidak hanya untuk bisnis saja. Saya mendapatkan frame work ini justru dari sekolah teknik elektro dimana saya sekolah dulu.

BACA: Kenapa Universitas Jarang Melahirkan Pengusaha?

Nah apa sih input output analysis itu..?

Pada dasarnya terdiri dari 3 bagian yaitu input, proses, dan output. Kalau dalam bisnis mungkin kita sering mendengar istilah hulu ke hilir, dimana hulu sebagai input, hilir sebagai output, dan perusahaan sebagai proses.

1. Hulu

Di sini kita akan menemui yang namanya supplier, kontraktor, petani, atau penambang.

2. Perusahaan

Tentunya di sini kita akan menemukan semua proses yang mengolah semua bahan dari hulu tadi untuk dibuat suatu produk baru yang diinginkan. Perusahaan itu bisa berupa manajemen, atau business owner yang punya suatu bisnis, atau bisa jadi berupa tempat produksi.

3. Hilir

Di sini ujung dari sampainya produk yang telah diolah tadi, bisa berupa konsumen, toko eceran, dan tempat lainnya yang menerima atau membeli produk yang telah diolah tadi.

Jika air mengalirnya dari hulu ke hilir, maka dalam bisnis terjadi sebaliknya. Uang tentunya akan mengalir dari hilir/konsumen ke perusahaan (keluar dalam bentuk operasional cost), baru kemudian ke hulu/supplier.

Selisih dari pemasukan dan pengeluaran menjadi keuntungan. Atau bisa juga terjadi kerugian jika pengeluaran lebih tinggi daripada pemasukan. Itu yang disebut dengan laba rugi.

Apa korelasinya BMC dan input output analysis..?

Kita mulai dari hilir yaitu permintaan pasar/konsumen. Siapa yang sebenarnya menjadi target pasar kita. itu disebut sebagai customer segmen dalam BMC.

  • Apa yang mereka butuhkan..?
  • Masalah apa yang akan kita selesaikan..?
  • Apa keunggulan atau diferensiasi kita dari kompetitor..?

Jawaban pertanyaan ini akan memperbaiki output atau produk yang keluar sehingga mempunyai diferensiasi yang kuat. Inilah yang disebut dengan value proposition dalam BMC. Bisnis bisa dimulai dalam skala kecil dengan mendeliver value proposition tersebut ke tempat customer.

Tapi pada saat kita ingin melebarkan bisnis, maka kita akan membutuhkan saluran distribusi. Itulah yang disebut dengan channel distribution dalam BMC.

Setelah kita mendistribusikan produk ke titik-titik terdekat dari konsumen, permasalahan berikutnya adalah bagaimana caranya menarik konsumen untuk mengetahui dan datang ke tempat distribusi tersebut. Di sinilah membutuhkan yang namanya kampanye/promosi.

BMC tidak hanya dibuat untuk bisnis yang bersifat komersial saja, melainkan bisa digunakan juga untuk organisasi non profit. Maka dari itu BMC juga menyediakan kolom customer relationship.

Untuk menghasilkan value proposition yang tadi kita siapkan, dibutuhkan suatu proses dalam internal perusahaan yang disebut dengan key activities. Adalah aktifitas-aktifitas perusahaan untuk membuat bisnisnya berjalan. Misal membuat produk, melakukan promosi, dan membuat konten harian.

Dalam aktifitas perusahaan tentunya membutuhkan sumber daya, yang disebut dengan key resources. Bisa berupa sumber daya manusia, mesin, dan alat lainnya yang menjadi sumber daya perusahaan.

Ada beberapa proses yang tidak bisa dilakukan dalam internal perusahaan. Bisa karena alasan perampingan, meminimalisir resiko, atau juga untuk mempertahankan kefokusan terhadap kegiatan yang memang menjadi potensi bagi perusahaan tersebut. Oleh karena itu, proses yang tidak bisa dijalankan dalam internal perusahaan dilemparkan keluar atau bekerjasama dengan pihak luar. Ini yang disebut dengan key partnership. Bentuknya bisa berupa supplier, kontraktor, atau outsourcing.

Bagaimana, paham sampai sini..? Baik, kita lanjutkan.

Uang didapat dari konsumen yang membeli produk kita. Dari sini segala bentuk penjualan akan menghasilkan omset. Ini disebut dengan revenue stream.

Sedangkan segala biaya yang dikeluarkan, baik biaya untuk menghasilkan produk/jasa, biaya aktifitas perusahaan, pembayaran ke key partner, disebut sebagai cost structure. Biaya internal perusahaan bisa dibagi menjadi 2:

1. yang sifatnya tetap, disebut fix cost.

2. yang tidak tetap, disebut variable cost.

Nah, apakah sudah paham sampai di sini..? Ternyata induk konsep BMC sama dengan framework input output analysis. Beda framework beda istilah, namun sesungguhnya serupa nalarnya.

Jadi, kegiatan apa saja nih yang bisa menambah revenue stream teman-teman..?

Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Sampai jumpa di materi berikutnya..

Leave a reply

Subscribe
Newsletter
Open chat
1
Tanya Disini Yuk
Hai, calon pengusaha!
Selamat datang di YEA