• Call us: 085-100-313999
  • [email protected]

Bisnis Serakah Vs Bisnis Berkah

Mungkin sebagian besar anak millenial akan berpiki r seperti ini:

“Modal sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya.”

“Repot rekrut pegawai, kalau bisa diurus sendiri ya kenapa harus ngeluarin uang buat bayar pegawai??”

“Cari bisnis yang marginnya gede ah, biar untung juga gede dong..”

“Nah loh.. Siapa yang mikir kaya gini juga?? Salah gak sih mikir kaya gitu??”

Kita jawab menggunakan studi kasus alumni YEA yang satu ini yuk, dia juga awalnya seperti itu dan sempat berjaya bisnisnya. Tapi siapa sangka dia bangkrut. Namun dari kebangkrutan itu membuatnya sadar bahwa dia sudah membuat kesalahan fatal.

Apakah itu?? Yuk simak ceritanya, karena siapa tahu bisa bermanfaat untuk bisnis kamu kedepannya.

Halo, aku Ayu alumni YEA 27. Di tahun 2017 aku merintis bisnis kue brownis bernama Brozza. Saat itu sedang semangat-semangatnya mengejar target omset. Tidur jarang, banyak begadang, pokoknya workaholic banget. Alhamdulillah Allah kasih aku kelancaran dan rejeki berlimpah saat itu buat Brozza, hingga di akhir tahun aku bisa membantu orang tua untuk umroh.

Semua aku kerjakan sendiri, tidak ada pegawai sama sekali. Nah muncullah kebanggaan dalam diri dan berpikir bahwa semuanya itu adalah hasil dari jeri payahku sendiri. Aku pun tidak mau merekrut pegawai karena berpikir untuk menyimpan uang lebih banyak.

Saat Brozza sedang di atas angin, disitulah setan menggoda lebih jauh. Membuatku berpikir untuk membuka bisnis lain yang marginnya lebih besar. Ditambah keadaan kas yang tipis karena terpakai umroh kemarin, otakku terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang banyak dalam waktu cepat. Akhirnya aku mengambil tindakan untuk membuka bisnis fashion yang notabene marginnya jauh lebih besar. Untuk modal, aku cari investor kesana kemari.

Singkat cerita, investor berhasil aku dapatkan dari teman-teman dan terkumpul 20 juta rupiah. Senang sekali rasanya, dan Alhamdulillah Allah sekali lagi memberikan aku kelancaran hingga aku terlena dan meninggalkan Brozza begitu saja.

Karena merasa lancar dan aman-aman saja aku tidak cepat mengembalikan uang pada investor, uang tersebut malah aku pakai lagi untuk beli stok. Dan sekali lagi, aku tidak merekrut pegawai satupun.

Hehe.. iya iya..aku tahu mungkin kalian yang membaca ini kesal sekali. Ok kita lanjut dulu ya ceritanya..

Nah pada saat uangnya aku putar, dipakai untuk beli stok, iklan, dan segala macam, tapi ternyata orderan mulai sepi. “Duh, salah dimananya ya?? Mana investor pada nanyain uangnya lagi.”

Investor mulai tidak sabar menunggu uangnya, mereka marah dan kesal sekali. Di saat itu aku down, dan berpikir untuk membuat brozza dari awal lagi namun merasa sudah tidak ada semangat.

Aku pun merenung di kamar sendirian, uang tidak ada, hanya bisa menangis, dan tidak tahu mau cerita pada siapa.

Saat itulah Allah menyadarkan aku bahwa aku telah membuat kesalahan besar. Yaitu, niat.

Yap, niatku dari awal membuat bisnis adalah salah. Hanya untuk menguntungkan diri sendiri, serakah, kapitalis, dan tidak mementingkan kebutuhan orang lain. Tidak melihat kanan kiri yang mana mungkin orang saat itu sedang membutuhkan pekerjaan dan sebenarnya aku bisa menggaji pegawai. Namun aku malah tidak mau menjadi saluran rejeki untuk mereka.

Di saat yang sama, muncul juga rasa gengsi di hadapan teman-teman. Bagaimana jika mereka mengetahui kondisi aku yang sedang bangkrut dan dikejar-kejar orang. Duh pasti malu banget.

Karena tidak tahu harus melakukan apa, Alhamdulillah mulai ada keinginan untuk solat tahajud lagi. Dan merasa menyesal sekali, menangis, dan minta ampun pada Allah. Curhat selama mungkin pada Allah, menumpahkan cerita. Seperti itu tiap malam.

Tapi kalian tahu tidak?? Setelah cerita pada Allah dan mengakui dosa, rasanya lega sekali. Meskipun masalahnya belum selesai, tapi Allah menenangkan hatiku dan membuatku mantap untuk bangkit dari awal lagi.

Akhirnya aku mencoba menghubungi reseller dan pelanggan lama satu persatu. Pelan – pelan aku mulai lagi dari awal sembari meluruskan niat dalam bisnis. Jika dulu untuk mencari uang, maka sekarang aku meniatkan untuk membantu orang lain juga. Untuk menjadi salah satu saluran rejeki bagi mereka.

Tidak banyak berpikir, aku mulai merekrut 2 orang karyawan dengan hari kerja tidak setiap hari. Karena orderan belum sebanyak dulu, aku hanya bisa menggaji mereka 50ribu/hari. Mungkin kecil untuk kita, tapi ternyata sangat berharga bagi mereka. Dan di akhir tahun 2018, aku meminta bantuan pada Mas Rafli Egy (alumni YEA juga) untuk membantu memasarkan Brozza.

Alhamdulillah semenjak itu Allah mulai memberiku banyak orderan hingga aku bisa merekrut pegawai lagi. Saat ini, total 6 tim produksi, 2 admin, dan 6 sales di dodolo.id.

Alhamdulillah, aku belajar banyak hal. Kalau kita ingin mempunyai bisnis yang berkah dan rejeki yang banyak ya harus banyak orang juga yang dilibatkan karena akan semakin banyak doa yang dipanjatkan. Dan kita tidak akan pernah tahu doa siapa yang dikabulkan.

Ramadhan ini menjadi titik balik bagiku. Haru terasa saat melihat karyawan yang kebanyakan ibu-ibu, mereka membeli takjil dan buka puasa menggunakan gaji yang aku beri. Bahagia terpancar dan mereka terlihat seperti tidak ada lelahnya. “Ya Allah kemana aja aku selama ini…????”

Nah, itulah bisnis yang berkah. Saat bisnis kita menjadi manfaat bagi sekitar. Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk kita semua.

Subscribe
Newsletter