• Call us: 085-100-313999
  • info@yea-indonesia.com

Hampir Menginjak 21 Tahun, Rafli Egy Wijaya Berhasil Meraih Omset Puluhan Juta Rupiah Perharinya

Rafli moci maco

Hampir Menginjak 21 Tahun, Rafli Egy Wijaya Berhasil Meraih Omset Puluhan Juta Rupiah Perharinya

Rafli moci maco

“Tidak ada yang mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Semua membutuhkan proses. Yang penting adalah jangan pernah melewatkan momentum. Jika kita berani memulai, maka setelahnya hanya perlu melanjutkan. Dan tantangannya adalah mempertahankan.”

Begitulah ujar Rafli mengenai bisnis. Saat remaja seusianya mungkin sedang asik membuang waktu, namun pria yang akrab disapa dengan nama ‘Rafli’ ini selangkah di depan. Pikirannya yang visioner dan tidak mudah menyerah membuat ia bisa berkembang saat ini. Lahir di Palembang pada tanggal 2 September 1994, dan merupakan anak kedua dari 2 bersaudara.

Mengawali Dunia Bisnis

Rafli sudah tertarik dengan dunia bisnis sejak duduk di bangku SMA. Website custom menjadi bisnis pertamanya yang dijalankan bersama teman-teman SMA, namun tidak berjalan lama. Seusai kelulusan, bisnis website custom pun harus berakhir, karena personilnya berpencar dengan urusan masing-masing. Ada yang fokus untuk melanjutkan kuliah, dan ada pula yang fokus untuk mencari kerja.

Rafli sendiri melanjutkan kuliah di politeknik ITS jurusan informatika, namun hanya bertahan 4 bulan. Kemudian ia mencoba untuk beternak bebek, dan hanya berjalan 6 bulan. Ia merasa belum memahami cara berbisnis dari ternak bebek pada waktu itu, sehingga mengalami kerugian sekitar puluhan juta rupiah.

Beranjak dari situ, ia pun mulai mendalami bidang internet marketing dan mencoba membuatkan website untuk perusahaan. Hasil karyanya bagus dan diterima, namun income dari jasa tersebut sangat minim, dikarenakan sebagian besar pemakai jasanya adalah UKM kecil yang tak jarang mengalami kendala di bagian produksi.

Menuntut Ilmu Bisnis

Merasa bingung dengan beberapa usaha yang telah dijalani, ia pun berpikir untuk menimba ilmu bisnis terlebih dulu. Akhirnya Rafli memutuskan untuk mendaftar di YEA (Young Entrepreneur Academy) batch 20 di Bandung. Ia menuturkan bahwa banyak yang telah ia dapat dari YEA, terutama hal-hal yang bersifat basic dalam bisnis seperti mental dan karakter yang diasah di dalamnya.

Rafli merasa bahwa apa yang diajarkan di YEA berdampak padanya, walaupun belum semuanya ia terapkan. “Semua butuh proses, tidak bisa instan.” ujar Rafli. Menurutnya, pengalaman yang paling berkesan selama di YEA adalah saat home business project, karena menjadi sarana pembelajaran untuk membuat suatu produk dari awal hingga pemasaran. Selain itu, ia menambahkan bahwa dalam home business project-lah yang bisa menghasilkan income lebih banyak.

Selama 6 bulan lebih berdomisili di Bandung, membuatnya banyak terpengaruh dengan kuliner khas ibukota Jawa Barat ini. Lulus dari YEA, ia pun mulai melakukan trial and error untuk roti dan pancake buatannya. Namun, ia merasa kurang menguasai teknik pembuatan roti. Sampai akhirnya Rafli mencoba untuk membuat mochi, yang disambut dengan baik oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Dari semua yang pernah Rafli buat, mochi tersebut lah yang paling enak.

Macho

Mochi Maco

Cafe Mochi Maco dengan tagline ‘Kesukaan Para Wanita’, menjadi bisnis pertamanya yang bertahan hingga saat ini. Bekerjasama dengan kakaknya sendiri yaitu Leviani alumni Ecamp. Dibuka pada tanggal 7 Juni 2014 di Jalan Galungung nomor 83 Malang. Rafli memilih Kota Malang, karena menimbang price list-nya yang lebih murah ketimbang Kota Bandung. Ditambah juga dengan banyaknya kerabat yang dapat membantu di Kota Malang. Mochi Maco sendiri awalnya untuk menjadi makanan kesukaan bagi kaum hawa. Hal tersebut dikarenakan target pasar wanita lebih mudah dipengaruhi dibandingkan dengan pria.           

Konsep Cafe Mochi Maco adalah menjadi kedai es krim, yang di dalamnya terdapat beberapa makanan lain yang sudah bertahan lama eksis di Indonesia. Mengingat es krim merupakan makanan yang disukai oleh berbagai kalangan usia dan gender, maka Rafli pun mulai melakukan reprofiling terhadap target pasar Mochi Maco. Rafli menuturkan bahwa ia ingin meluaskan segmentasi target pasarnya, sehingga semua orang dapat mengunjungi Cafe Mochi Maco tanpa harus terbatasi oleh usia ataupun gender. “Jangan membuat orang ragu untuk masuk ke tempat kita, dari segmen manapun.” tegas Rafli. Ia menyebutkan bahwa bulan puasa Tahun 2016 ini akan menjadi waktu penataan ulang untuk strategi tersebut.

Omset yang dihasilkan dari Mochi Maco ini berkisar antara 13 juta – 20 juta rupiah perhari. Omset paling banyak dihasilkan saat weekend yang biasanya dapat mencapai angka lebih dari 17 juta rupiah.

Sweet-Mochi-Trio-1-1

Kesalahan yang Pernah dilakukan

Hampir berjalan 2 tahun, Rafli menceritakan bahwa banyak kesalahan yang telah ia lakukan selama membenahi Mochi Maco. Salah satunya adalah ia pernah membeli meja bar seharga 3,5 juta rupiah yang akhirnya tidak terpakai, dan beberapa barang lainnya yang pernah ia beli namun tidak terpakai. Ia menjelaskan bahwa mungkin sifatnya yang masih terburu-buru saat itu, sehingga tidak mempertimbangkan culture dan habbit konsumen.  Total kerugian yang ia alami saat itu mencapai angka lebih dari 40 juta rupiah. “Angka tersebut adalah biaya belajar saya, hehe..” ujarnya.

Rafli menyebutkan bahwa ‘rugi’ dan ‘bangkrut’ adalah hal yang sulit dielakkan dalam bisnis, yang bisa dilakukan adalah meminimalisir hal tersebut dengan membuat perencanaan yang matang. Mengingat dirinya yang ‘gampang berubah pikiran’, membuatnya belajar bahwa sikap konsisten terhadap suatu perencanaan adalah penting, dan tidak boleh berubah di tengah jalan. Terlalu perfectionist juga menurutnya tidak baik, karena akan membuat diri tidak puas serta selalu mencari-cari kesalahan dalam pekerjaan. Menurutnya banyak kesalahan terjadi dalam manajemen bisnis, karena tenaga kerjanya yang kurang berpengalaman.  Sehingga penting untuk bekerjasama dengan orang yang sudah berpengalaman, sebagai penasehat bisnis.  

Bangkit dari ‘Bangkrut’

Untuk bangkit dari kebangkrutannya, Rafli selalu menegaskan ke dirinya sendiri bahwa ia masih muda dan perlu untuk memperbanyak pengalaman. “Kalau bangkrut ya wajar… masih muda dan belum berpengalaman, yang penting mencoba.” ujarnya. Menurutnya yang penting adalah kita dapat mengukur diri, tahu dan siap menghadapi resiko dari action yang dilakukan. Mempunyai tim yang solid juga diperlukan untuk menjaga kelanggengan bisnis, oleh karena itu Rafli selalu menjaga dan memperluas networking.

moci-maco rafli

Selalu Belajar

Meskipun bisnisnya sedang menanjak naik, namun Rafli berusaha untuk mengikuti seminar dan pameran bisnis. Baginya, belajar adalah hal yang penting, mengingat dinamika kehidupan saat ini yang sangat mudah berubah. Apalagi ia sedang mempersiapkan Mochi Maco agar siap untuk di franchise-kan tahun ini, membuatnya gencar untuk mencari alat-alat yang bagus serta membuat tim yang solid. “Paling tidak, usahakan untuk membaca buku pagi hari atau majalah.” pungkasnya. Ia pun sadar bahwa setiap bisnis mempunyai life time-nya, sehingga belajar adalah hal yang diperlukan. Selain itu, adanya kompetitor selalu memicu Rafli untuk melakukan inovasi. “Inovasi dan fokus.” ujarnya.

Motivasi Diri

Bersilaturahim, adalah salah satu cara yang Rafli gunakan untuk memotivasi diri. Terutama saat berkumpul dengan orang-orang yang dapat memberikan ia energi positif. Menurutnya, motivasi bisa didapat dimanapun. Saat dirinya sedang mengalami bad mood, jalan-jalan sendirian merupakan pengalihnya. Ia bisa menghabiskan waktunya di toko buku yang menjadi me time-nya, membeli barang, ataupun duduk sendirian di cafe sambil mengamati kondisi sekitar. “Yang penting pengalihnya adalah hal yang positif.” tuturnya.   

Terdapat kata-kata ayahnya yang selalu Rafli ingat, yaitu:

“Semua hal dalam hidup adalah pilihan. Jika kita berkeinginan menjadi pengusaha, maka masalahnya juga akan semakin banyak dan kompleks. Karena kita tidak hanya memikirkan diri kita sendiri, melainkan memikirkan banyak hal. Mulai dari pemasukan, pengeluaran, hasil kerja karyawan, gaji untuk karyawan, hasil kerja diri sendiri, kebutuhan diri sendiri, kebutuhan karyawan, masa depan bisnis apakah akan bangkrut atau tidak, jika bangkrut bagaimana nasib karyawan. Bila tidak ingin mempunyai masalah yang seperti itu, maka tidak usah jadi pengusaha, jadi followers saja.”   

Keinginan dalam Hidup

Jika kebanyakan remaja seusianya mungkin menginginkan beberapa barang pribadi yang ingin dibeli dari usahanya, namun tidak dengan Rafli. Sampai saat ini, ia tidak pernah membeli barang apapun untuk kebutuhan pribadi. “Kecuali kredit mobil. Itupun mobil yang sangat murah.” ujarnya. Rafli merupakan pribadi yang penuh dengan perhitungan. Jika suatu barang benar-benar ia butuhkan serta dapat menambah efisiensi bisnisnya, maka ia akan membelinya. Seluruh profit yang ia hasilkan, diinvestasikan ke usahanya kembali. Karena ia berkeyakinan bahwa bisnisnya akan menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat di masa depan. “Jika Saya habiskan uangnya untuk membeli barang-barang pribadi, maka di masa depan nanti saya tidak akan mendapatkan apa-apa.” tegasnya.

Dua tahun belakangan ini ia habiskan untuk mempelajari semua hal mengenai restaurant. Ia membeli semua buku mengenai restaurant yang kebanyakan bahasanya masih dalam bahasa Inggris. Rafli mengakui bahwa meskipun ia belum terlalu menguasai bahasa Inggris, namun ia tetap mencoba untuk mempelajarinya. Ia juga sering mengamati pola pelayanan dan pemasaran tiap restaurant, salah satunya J-Co.

Targetnya untuk 3 tahun kedepan adalah dapat mem-franchise-kan Mochi Maco. Ia mulai membenahi masing-masing outletnya baik dari segi disain, sistem operasionalnya, sumber daya manusia, gaji, dan manajemennya agar siap untuk di franchise-kan. Sedangkan tahun depan ia berencana untuk membuka 3 – 4 cabang lagi, sehingga pada tahun ke-3 sudah bisa dilakukan ekspansi.  

Cita-citanya hanya satu, yaitu ia ingin membuat perusahaan atau bisnis yang bersifat jangka panjang. “Saya ingin usaha saya saat ini dapat menjadi brand yang bagus, orang tidak akan rugi saat membeli franchise-nya, dan bisa menjadi manfaat untuk orang banyak. Entah itu bisa menjadi tempat kerja yang layak, bisa memberi salary yang layak, atau bisa juga menggunakan semua bahan baku dari Indonesia sehingga dapat memberdayakan sumber daya alam dan manusia Indonesia.” tegasnya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Subscribe
Newsletter