• Call us: 085-100-313999
  • [email protected]

Jadi wirausaha gara-gara wisuda..??

“Kata Rektor UIN waktu itu, sebenarnya wisudawan berpotensi menjadi pengangguran terdidik. Karena persaingan dunia kerja pada kenyataannya menyebabkan angka pengangguran makin meningkat. Jadi daripada kita nganggur karena nunggu panggilan kerja, lebih baik mulai usaha aja.”

Itulah penuturan Ganjar Hidayat sewaktu mengisi kelas. Memang unik alumni YEA veteran yang satu ini, ia jeli menemukan peluang bisnis dan tidak takut untuk mencoba hal baru.

Ia sudah memulai perjalanan bisnis sejak masa kuliah di Jogja. Setelah lulus kuliah dari UIN Jogja, Ganjar kemudian berhasil mendapatkan beasiswa dan belajar bisnis di kampus YEA (Young Entrepreneur Academy) selama 6 bulan lebih.

Setelah lulus dari YEA (Young Entrepreneur Academy), Ganjar dan 3 orang alumni YEA lainnya memulai bisnis kuliner yang dinamakan Oseng Mercon. Mungkin teman-teman di Bandung sudah tahu tentang tempat makan yang terkenal dengan oseng kikil pedasnya ini. Sempat melejit hingga berhasil membuka beberapa cabang dan omset yang cukup tinggi, namun pada tahun 2014 Oseng Mercon harus bangkrut karena kesalahan manajemen. Ia akhirnya menyerahkan kepemilikan Oseng Mercon pada timnya Kang Ableh yang juga merupakan alumni YEA.

Kemudian, Ganjar Hidayat melanjutkan bisnis sendiri dan bergabung di YEA (Young Entrepreneur Academy) sebagai Fasilitator dan Mentor. Selain mengajar, ia pun bertanggungjawab untuk memberikan konsultasi bagi perkembangan bisnis siswa YEA. Di luar itu, ia juga aktif mengadakan konsultasi bisnis untuk berbagai UKM di Kota Bandung. Karena pengalaman itulah, intuisinya dalam strategi bisnis semakin terasah dan sensitif menemukan peluang.

Barulah ditahun 2017, Ganjar membuat bisnis di bidang Fashion muslim pria dengan brand Hijrah Men. Produk penetrasinya berupa peci modern yang cocok untuk anak muda, terutama saat itu sedang booming pemuda hijrah.

“Pertama terinspirasi dari buku Buka Langsung Laris yang menyebutkan bahwa produk potensial adalah produk yang everlasting tapi belum ada merek terkenalnya. Terus kebetulan saya ke mesjid, dan melihat semua orang pake peci. Tapi belum ada merek peci yang terkenal. Sedangkan ada merek H. Iming namun modelnya klasik. Nah kenapa gak ya saya jual peci modern untuk anak muda yang lagi giat hijrah. Jadi pake peci juga tetep ngerasa keren.” Tutur Ganjar sambil sedikit tertawa.

Tidak banyak berpikir, Ganjar langsung membuat akun instagram untuk Hijrah Men. Ia juga langsung mendatangi produsen peci di Garut untuk langsung membeli peci dan menjualnya via fb ads. Karena hasil penjualan bagus, sekarang ia sudah bekerjasama dengan produsen sehingga kualitas dan bahan peci sesuai dengan permintaannya.  

Untuk jasa iklan, ia langsung mengajak kerjasama siswa YEA dan alumni YEA yang ahli dalam bidang facebook ads. Karena produknya yang minim kompetisi, peci Hijrah Men banyak diminati sehingga siswa YEA yang mengiklankan juga tertarik menjadi reseller.

Walaupun omset rata-rata saat ini mencapai puluhan juta rupiah dan selalu meningkat tiap Ramadhan, namun bukan berarti tanpa kendala ya. Ada saja kendala dalam bisnis apapun level bisnisnya. Karena salah mengembangkan produk baru berupa gamis, akhirnya yang seharusnya menjadi omset puluhan juta malah menjadi dead stock karena tidak kuat menghadapi persaingan.

“Saat Ramadhan gamisnya laku banget, jadi saya ngembangin gamis pasca Ramadhan, eh malah gak laku wkwk.. Seharusnya saya konsisten mengembangkan peci-nya, bukan malah ke gamis.”

Yap, saat ini omset terbesar Hijrah Men berasal dari peci yang merupakan produk penetrasi selama ini. Dengan target pasar laki-laki muslim usia 25-35 tahun, mayoritas penjualan ke wilayah DKI, Sulawesi, dan Kalimantan.

Dan pada saat ditanya tentang pesan untuk anak muda lainnya yang lagi cari produk untuk jualan, ia menjawab: “Cari produk?? Ke saya aja.. hehe..”

Semoga menginspirasi.. 🙂

 

Subscribe
Newsletter