• Call us: 085-100-313999
  • [email protected]

Young Entrepreneur Maritim Simposium 2018

Young Entrepreneur Maritim Simposium 2018

YEMS 2018, Apakah Kemasan dan Limbah Produkmu Turut dalam Perusakan Lingkungan..??

Bagi pengusaha yang belum mempedulikan lingkungan, harap baca ini..!

“Manusia akan menjaga tempat yang menjadi sumber uangnya. Jika air atau laut dapat mempengaruhi besar kecil penghasilan, mereka akan menyadari betapa pentingnya menjaga laut tersebut. Dan kini, sumber air kita sedang tercemar.”

Tanggal 10 April 2018 kemarin, YEA menghadiri Young Entrepreneurs Maritime Symposium (YEMS) 2018 di hotel Millenium Sirih Jakarta. Symposium tentang kewirausahaan di bidang perairan dan pentingnya menjaga sumber air untuk kelangsungan bisnis tersebut, mengundang Dubes Arif Havas Oegroseno selaku Deputi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia serta 23 narasumber yang merupakan pejabat, akademisi, sekaligus entrepreneur terbaik di bidang kemaritiman.

 

Banyak dari kita yang belum menggali potensi laut, sungai, maupun danau untuk kesejahteraan bersama. Padahal, banyak produk yang dapat dibuat dari apapun yang terkandung di dalamnya. Selama ini, kita menggunakan sumber air hanya sebagai tempat akhir pembuangan limbah. Hal ini memperburuk keadaan, karena sampah merusak semua ekosistem yang hidup dalam air.

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar ke-dua di dunia. Data dari KLHK yang menyebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.

Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Itu baru sampah plastik, belum limbah yang lain. Hampir 50% sampah dibuang ke laut.

Eksperimen laboratorium dengan larva ikan menunjukkan bahwa paparan partikel mikroplastik pada air laut, menghambat penetasan telur yang dibuahi, menghambat pertumbuhan larva, mengurangi tingkat aktivitas, dan membuat mereka lebih rentan pemangsa serta meningkatkan tingkat kematian. Artinya, sampah di laut membuat produksi ikan semakin berkurang.

Hal tersebut tentu sangat merugikan banyak pihak seperti nelayan di daerah tersebut, pedagang ikan, produsen produk olahan ikan, perusahaan obat dan kosmetik, pasien yang membutuhkan obat dari ikan, bisnis lainnya yang secara tidak langsung berkaitan dengan perikanan dan kelautan, termasuk bagi kita yang suka mengkonsumsi ikan. Padahal, estimasi nilai ekonomi maritim Indonesia di sektor perikanan mencapai 29,2 miliar US Dollar/tahun.

Adalah Nicholas Kurniawan, salah satu narasumber entrepreneur dalam YEMS 2018. Owner Venus Aquatic yang bergerak di bidang ekspor ikan hias itu menyebutkan bahwa sebagian besar ikan hias yang beredar di Singapura dan Cina berasal dari Indonesia. Sungai dan danau di Indonesia sangat kaya akan ragam ikan hias. Semakin bersih airnya, semakin bagus ikan yang dihasilkan.

Nicholas membeli ikan hias dari warga setempat dengan harga minimal 500ribu rupiah. Dalam satu bulan, Nicholas dapat menghasilkan 1,5 Miliar Rupiah. Dengan bisnis ini, ia turut serta menyejahterakan warga tersebut dan otomatis membuat warga menjaga sungai agar ikan yang dihasilkan punya harga jual tinggi.  

 

Jika air bersih, maka semakin banyak hasil dari air tersebut yang dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan bersama.

 

Mohamad Bijaksana Junerosano selaku pendiri Greeneration Foundation, menjelaskan bahwa ekosistem air menjadi rusak salah satunya karena pembuangan limbah yang tidak terkelola secara berkelanjutan. Di Indonesia, sampah hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya, bukan diolah atau daur ulang.

Kendala dalam pengolahan sampah di Indonesia dikarenakan tidak tegaknya peraturan yang mengharuskan warga membuang sampah berdasarkan kategori sampah tersebut. Semua sampah cair dan padat, organik dan non-organik menjadi satu, sehingga tidak dapat disortir.

Selain itu, jumlah sampah plastik di Indonesia bisa kita kurangi dengan cara sadar akan tanggung jawab kita terhadap apapun yang kita hasilkan. Terutama bagi para produsen, diharapkan dapat berkontribusi dengan cara membuat kemasan yang dapat didaur ulang, mengurangi penggunaan plastik, dan membuat kemasan multifungsi yang dapat digunakan kembali sehingga tidak langsung dibuang oleh konsumen.

Semoga bermanfaat, karena jika lingkunganmu sehat maka bisnismu akan berlangsung lama.

Subscribe
Newsletter