• Call us: 085-100-313999
  • [email protected]

Bagi kamu yang merasa bisa menjalankan bisnis tanpa ilmu, baca ini..!!

“Kalau sekedar jualan mungkin bisa tanpa sekolah, tapi agar bisnis kita bertumbuh itu butuh ilmu bisnis.”

Itulah yang diucapkan oleh Makoto Ragagza alumni YEA 24, saat ditanya mengapa ikut YEA padahal bisnisnya sudah berjalan lancar.

Owner Java Jones Clothing tersebut merantau ke Bandung dari Banyuwangi pada akhir tahun 2013. Setelah berhasil membujuk orang tuanya, Makoto pergi hanya dengan bermodalkan nekat dan naik kereta sendirian. Saat itu ia tidak mempunyai tempat tinggal di Bandung, sehingga menumpang di kos kakak kelasnya yang kebetulan kuliah di ITB.

Salah satu alasan ia pergi ke Bandung adalah karena sebagian besar suplier baju dagangannya berasal dari Bandung. Ia pun ingin menemui langsung suplier-nya dan ingin lebih dalam melihat proses bisnis clothing dari kota kembang yang terkenal dengan kualitas bajunya.

Makoto mempunyai jiwa yang mandiri sejak kecil. Ia akan sangat senang jika dapat menghasilkan sesuatu dengan jerih payahnya sendiri tanpa harus merepotkan orang tuanya. Hal ini yang membuat Makoto terbiasa berjualan sejak SD, mulai dari menjual kertas binder pada teman-temannya, kaos polos dan couple sewaktu SMP dan SMA, hingga dapat membeli blackberry dengan uangnya sendiri.

Melihat ibunya yang bergelar Sarjana Ekonomi namun malah berdagang ayam di pasar, membuat Makoto mempunyai mindset bahwa kuliah itu tidak penting jika ingin jadi pengusaha. Akhirnya, semenjak berusia 17 tahun, ia rajin mengikuti seminar-seminar bisnis dan membeli buku-buku bisnis seperti The Power Of Kepepet.

Awal kesuksesan bisnis Makoto di awali dengan tertipunya ia oleh salah satu suplier palsu. Saat itu, ia sudah mentrasfer uang sebesar 23 juta rupiah yang terkumpul dari customer-nya. Suplier palsu tersebut mengatakan bahwa baju yang di pesan itu dalam sistem pre order. Namun saat barang tak kunjung datang dan suplier tak bisa dihubungi, saat itulah Makoto sadar bahwa ia telah ditipu. Makoto pun menjelaskan hal tersebut pada customernya, dan harus mengembalikan semua uang sebagai bentuk tanggung jawabnya pada konsumen.

Makoto bangkit perlahan, ia coba kembali dengan uang seadanya menjual baju melalui instagram hingga akhirnya hutang terlunasi. Di saat yang bersamaan, ia menjual celana jogger pants yang sedang booming pada pemakai sepatu sneakers. Hal tersebut berhasil mendatangkan profit yang banyak pada Makoto, sampai ia dapat memberangkatkan umroh orang tuanya.

Akhirnya Makoto memutuskan untuk membuat brand celana tersebut dengan nama Jones 1996. Hanya bermodalkan beberapa ratus ribu rupiah, ia membuat label kulit sebanyak 100 pcs. Sebagian besar pembeli ia dapat dari Bekasi dan Jakarta.

Ia berpikir bahwa Jones 1996 ini harus tumbuh, ia harus memproduksi bajunya sendiri. Hal ini yang membuat ia merasa butuh ilmu bisnis. Teringat lagi akan sekolah bisnis yang ingin ia belajar di sana ya itu YEA, membuat Makoto mengumpulkan uang untuk dapat masuk di batch 24. Hingga akhirnya masuklah ia di YEA pada usia 19 tahun.  

Nama Jones 1996 ia ganti menjadi Java Jones Clothing agar dapat dipatenkan. Sekarang alhamdulillah Makoto sudah bisa memproduksi baju dan celana sendiri.

Makoto juga fokus untuk mendukung lokal brand Indonesia, yang ia realisasikan dalam bentuk foto produk gratis untuk beberapa lokal brand indonesia saat ia pergi ke Maldives  beberapa bulan lalu.

Bagaimana dengan produkmu..?? Semoga sukses juga ya.. 🙂

Subscribe
Newsletter