• Call us: 085-100-313999
  • info@yea-indonesia.com

Bangkit Dari Bangkrut, Alumni Yea 22 Ini Dapat Meraih Omset Puluhan Juta, Hanya Bermodalkan 200ribu Rupiah..??

breakday

Bangkit Dari Bangkrut, Alumni Yea 22 Ini Dapat Meraih Omset Puluhan Juta, Hanya Bermodalkan 200ribu Rupiah..??

“Omset puluhan juta rupiah/bulannya kini, berawal dari kebangkrutan 2 tahun silam.”

Breakday Snack justru muncul sebagai produk bintang bagi pria yang genap berusia 25 tahun saat ini. Snack yang terbuat dari kue sus kering berisikan cokelat aneka rasa tersebut, banyak digemari oleh berbagai kalangan.

Adalah Ikhtiary Gilang yang lahir pada tanggal 7 Juli 1991, sebagai owner-nya tidak menyangka Breakday akan menjadi bisnis yang ia tekuni. Karena semula ia hanya berniat menjadikannya sebagai ‘sapi perah’ untuk bisnis kulinernya yang sedang membutuhkan asupan dana.

break day

Pria kelahiran Bekasi ini, memang sudah hobi berdagang sejak SMA. Namun sebelum ia melanjutkan ke YEA, ia harus menyelesaikan pendidikannya di universitas dulu sebagai permintaan orang tuanya.

Di YEA, Gilang pernah meraih juara dalam kompetisi EPC online YEA batch 22. Saat itu ia belajar untuk meng-affiliate-kan salah satu produk, dan berhasil meraih omset tertinggi.

Gambaran bisnis kedepannya sudah Gilang rancang sedari project Home Business di YEA. Ia bercita-cita untuk membuat bisnis kuliner, yaitu Bakso dengan differensiasi kuah yang dapat dibuat aneka rasa. Hal tersebut langsung ia wujudkan tak lama setelah lulus dari YEA. Ia mengatakan bahwa membangun bisnis harus disegerakan agar momentumnya tidak hilang.

Baik gerobak maupun ruko sudah pernah ia coba untuk bisnis baksonya, namun beberapa bulan kemudian tutup karena kehabisan dana operasional.

Tak gentar dan tak habis akal, ia pun mencari ide untuk membuat produk lain sebagai ‘sapi perah’. Diperkenalkan sus kering isi cokelat oleh teman dekatnya, ia memutuskan untuk membuat sus tersebut sebagai produk sapi perah. Bermodalkan 200ribu rupiah, sisa dari dana operasional baksonya, Breakday Snack tercipta.

Bisnis modelnya cukup sederhana, yaitu hanya membeli sus kering dari supplier, kemudian diberi rasa dan dikemas oleh Gilang beserta tim, lalu dipasarkan secara online.

Pemasaran yang cukup unik dilakukan oleh Gilang, yaitu meminta teman-teman SMP yang populer untuk mem-posting Breakday secara berurutan dari hari ke hari di sosmednya masing-masing, tanpa memberitahukan bahwa Gilang adalah ownernya. Selain membuat viral, ia ingin mengetahui apakah angka repeat order-nya bagus atau tidak.

Karena hasil penjualan yang terus meningkat dan mulai stabil, Gilang memutuskan untuk fokus membangun Breakday bersama timnya saat ini, dan menyuntik mati bisnis baksonya. Ia menyadari bahwa dirinya memang lebih tepat bergerak di bisnis yang simple, bukan di bidang produksi.

Banyak kompetitor bermunculan, memacu Gilang untuk terus berinovasi. Salah satunya adalah menekankan positioning Breakday sebagai snack-nya para traveller. Hal tersebut akan diwujudkan dalam bentuk kerjasama Breakday dengan PT KAI pada bulan Maret 2017 ini, dengan menyediakan beberapa stand di stasiun.  

Kini, 3500 pcs Breakday telah terjual tiap bulannya. Dan impian Gilang kedepannya untuk Breakday adalah dapat memberi pekerjaan untuk 10ribu karyawan.

Semoga dapat terwujud dan memberi inspirasi bagi kita semua..

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Subscribe
Newsletter